Senin, 29 Desember 2008

Ajian-Ajian Kejawen

Ajian Kantraman Mengharmoniskan Pasutri
Problem rumah tangga saat ini penyebabnya makin komplek. Masalah yang ditimbulkan datang silih berganti. Kadang pihak ketiga yang merepotkan sampai perselisihan dua hati yang sulit disatukan. Semua itu sebenarnya hanyalah cobaan. Tergantung kuat tidaknya seseorang menghadapinya.
Boleh percaya atau tidak. Keberadaan ajian meski sulit dinalar tapi pada dasarnya ilmu halus ini bisa dirasakan manfaatnya. Secara tidak langsung begitu penguasai ajian orang bisa merasakan perasaannya lebih tenang dan tentram. Entah itu lantaran tersugesti oleh kemampuan yang dia punyai. Ataukah karena energi alam yang terkumpul dari mantera dan doa dalam dirinya bereaksi.
Manfaat ajian sendiri akan banyak digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan oleh orang yang menguasai. Paling tidak dengan ajian seseorang bisa punya pegangan. Dan, itu bisa digunakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Namun, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar sebenarnya merupakan godaan terberat bagi pelaku agar tidak disalahgunakan.
“Bisa jadi sakit gila kalau dia tidak bisa mengendalikan ajian yang dimiliki. Sebab, kadang orang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain karena memiliki ajian tertentu,” ujar spritualis asal Semarang Ki Fatahillah kepada misterionline kemarin. Dia mengingatkan dari macam-macam ajian ada yang memiliki sisi buruk dan kebaikkan. Ada pula yang tujuannya semata untuk kebaikan.
Diantara ajian untuk kebaikan, Ki Fatah sebutkan, adalah Ajian Kantraman Omah yang tujuan hanya untuk menjaga keuntuhan rumah tangga. Selain masih ada lagi ajian dengan daya guna yang sama, yakni Ajian Kantraman. Masing-masing ajian ini meski sawab yang dipancarkan sama, hanya beda proses ritual dan mantera-mantera yang dilafalkan.
Seperti Ajian Kantraman Omah ritual yang harus dijalani dengan puasa mutih selama 6 hari. Yang kemudian disambung dengan melakoni puasa ngebleng pada hari ketujuh selama 1 hari. Sebagaimana prosesi ajian-ajian lainnya sebelum melakoni ritual harus lebih dulu mandi keramas. Sementara mantera yang harus dilafalkan bunyinya berikut ini;
Cing, cing, kalicing. Bojone maling duwe bayi. Tatune arang kranjang. Temulak bali mangetan. Bali mengulun, bali mengidul, bali mangalor. “Terpenting dari laku penguasaan ajian ini adalah doa dan mohon perlindungan yang ditujukan pada Allah semata. Jangan sampai berbuat syirik hanya karena sebuah ajian,” tutur pengasuh rubrik Tabir Mimpi di harian METEOR Jateng dan DIJ ini.


Mantra Pereda Wanita Hiperseks
Melayani hasrat seks perempuan bernafsu besar kadang kala membuat lelaki kewalahan. Paling menyusahkan apabila lelaki bersangkutan timbul rasa tidak percaya diri (PD) hingga diliputi perasaan depresi. Ini bila tidak segera diatasi bisa berakibat lebih fatal, yakni impotensi. Namun, jangan cemas karena ada mantra penjinak birahi. Mau tahu?
Ada sebagian perempuan yang ditakdirkan memiliki nafsu seks yang amat besar. Bila suami mereka dapat mengimbangi permintaan sang istri maka persoalan tersebut tidak akan menimbulkan masalah. Lain halnya bila sang suami sudah tak bisa lagi mengikuti pola seks yang amat padat.
Bila keadaan itu dibiarkan terus, bisa-bisa sang istri akan mencari kepuasan dengan cara lain. Yang lebih parah bila istri itu mencari lelaki lain untuk mereguk kenikmatan yang tak bisa diberikan oleh suaminya.
Tapi, bagi para lelaki yang punya problem semacam jangan lantas cemas bila istri
termasuk memiliki nafsu seks tergolong hiperseks. Menurut Bintoro, seperti dikutip oleh Misteri, nenek moyang kita sudah mempunyai mantra untuk meredakan atau mengurangi nafsu seksual perempuan hiperseks.
Caranya sangat mudah karena Anda tidak perlu melakukan ritual tertentu. Anda hanya membaca mantra sebanyak tujuh kali di atas organ kewanitaannya saat istri Anda sedang tidur. Adapun bunyi mantra itu adalah sebagai berikut:
Bismilaahirrohman nirrohim. Walladziina Kadz dzabbu biaayaatina wa astak baruu’an haa. La tuf tahulahum ab-wa bu-ussamaa-i. Wala yad-khuluu naal-jannata hattaa. Yalijaal jamalu fasammil khiyathi. Wa kadzaa lika naj-zi-il muh-siniina.
Mudah-mudahan dengan mantra tersebut, nafsu yang sudah meledak-ledak dapat kembali normal, sehingga kehidupan seksual bisa kembali normal dan harmonis.

Pengusir Teluh dan Percepat Jodoh
Kidung Rumekso Ing Wengi
Bukan rahasia lagi jika beberapa karya sastra yang diciptakan orang-orang Jawa dahulu memiliki nilai mistis yang amat tinggi. Karya sastra yang punya kelebihan beragam ini berbentuk kidung atau syairan. Salah satunya adalah kidung Rumekso Ing Wengi. Bagaimana bunyi syair mistis itu?
Tembang ini sangat terkenal pada zaman dahulu. Konon, kidung itu diciptakan oleh Sunan Kalijaga sehabis melakukan sholat malam. Kala itu, kidung ini cukup kondang di belantara tanah Jawa. Sering dinyanyikan masyarakat yang tinggal di pelosok pedesaan, ketika ada pertunjukan ketoprak, wayang kulit, dan hiburan tradisional lain.
Bahkan, para peronda ketika menyaksikan malam yang terlalu sunyi akan menyanyikan kidung yang mampu menentramkan pikiran ini. Hingga orang yang mendengarkan akan terhanyut dalam buaian kelelapan tidur. Sedang pada bait pertama kidung ini menjadi amat terkenal karena berisi yang bernilai mantra tolak balak.
Sedangkan bait selanjutnya yang berumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang. Bukti bait pertama kidung tersebut sebagai berikut; “Ana kidung rumeksa ing wengi, Teguh hayu huputa ing lar, Luputa bilahi Jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala, Gumaning wong luput, Geni atemah tirta, Maling adoh tan ana ngarah ing mami, Guna duduk pan sirna”
Artinya; Ada nyanyian yang menjaga di malam hari, Kukuh selamat terbebas dari penyakit, Terbebas dari semua malapetaka, Jin setan jahat pun tidak berkenan, Guna-guna pun tidak ada yang berani, Juga perbuatan jahat ilmunya orang yang bersalah, Api dan juga air, Pencuri pun jah tak ada yang menuju padauku, Guna-guna sakti pun lenyap.
Berdasarkan orang-orang tua dahulu, inti laku pembacaan Kidung Rumeksa Ing Wengi bertujuan agar orang-orang senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dasyat. Ada beberapa isi yang tersurat di dalam kidung itu. Diantaranya,
1) Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka.
2) Pembebasan semua benda.
3) Penyembuhan penyakit, termasuk gila.
4) Pembebasan pagebluk.
5) Pemercepat jodoh bagi perawan tua,
6) Menang dalam perang.
7) Memperlancar cita-cita luhur dan mulai.
Napas keislaman tampak mewarnai kidung Rumeksa Ing Wengi mulai bait ketiga dan seterusnya dengan menyebut asma Allah, malaikat, Nabi Rasul, dan nama seorang wali, Sunan Kalijaga. Jadi secara tematik kidung itu dilatari oleh napas keislaman.
Ini cocok dengan peringatan yang diberikan oleh pujangga terkenal Ronggowarsito. “Purwaning kang sinawung memanis, anedaknya serat kekidungan, lepata tulah sarike, ngalap berkahi pun, Kanjeng Nabi lan para wali, poma sagung lan maca, den samya tumayuh ing lair batin sedyakna, sata suci, daraponira atut asih, nugrahaning Pangeran”. Biasanya, kidung ini dilagukan dalam irama Dandanggula.

Ajian Jabaluddin Tinggikan Wibawa
Pendekar sakti mandraguna setiap menghadapi musuh belum tentu langsung menggunakan ajian kesaktian yang dimiliki. Ada tahapan dilakoni, yakni dengan berupaya membuat musuh lebih dulu jera. Tidak harus menghadapi dengan mengerahkan ajian pamungkas berupa kesaktian. Lalu bagaimana cara menguasai ajian itu?
Salah satu jenis ajian digdaya yang tidak bisa dipisahkan dari macam-macam kekuatan dikuasai kalangan pendengar, adalah ajian Jabaluddin. Asal-usul ajian ini ada sejak jaman kerajaan Padjajaran, Jawa Barat menancapkan kuasanya di tanah Jawa. Kalangan jawara dan pendekar sakti mandraguna saat itu banyak melengkapi kedigdayaan dengan ilmu penggetar hati ini.
Tidak pandang kalangan jelata atau bangsawan sejak dulu sudah terbiasa mengamalkan ajian Jabaluddin. Manfaat bisa didapatkan cukup banyak, mulai dari meluluhkan niat jahat musuh, meredam emosi, sampai menjaga kharisma diri agar tetap dilindungi aura wibawa.
Ajian ini menurut kalangan spiritualis disebut sebagai ajian kewibawaan yang maha tingi. Jika diimplimentasikan dengan kebutuhan di masa sekarang, banyak yang memanfaatkan untuk tujuan mempertaruhkan karir. Terutama sangat penting untuk membentuk keyakinan diri, dan menjadikan perasaan diri menjadi lebih berani.
Laku yang dijalankan pun tidak terlalu susah. Hampir sama dengan laku kadigdayaan lainnya. Harus melalui rapalan mantera, puasa, dan menahan tidak melanggar hal-hal yang dikategorikan pantangan. Memendam niat tidak baik, dan selalu menjaga diri agar tidak larut dalam suasana emosi dan hati yang panas karena suatu masalah.
Jaluddin apabila dirapalkan dalam hati dan digunakan untuk menghadapi seseorang akan membuat nyali dan keberanian seseorang menjadi kecil. Tak berkutik dihadapan pemilik ajian. Demikian juga apabila dipakai mengertak seseorang suaranya bisa membuat lawan gemetar dan tak dapat bicara. Ada pun rapalan ajiannya sebagai berikut;
“Bismillahirrohmanirrohim. Gelap sanga. Gelap sanga. Gelap sewu suaraku Syeh Jabarudin ana dadaku. Yaa aku syehe Allah. Laa..illaha illallah Muhammad rasulullah..”. Laku harus dijalankan adalah dengan menjalankan puasa sunah selama 40 hari.
Sementara mantera yang harus dibaca sebanyak 21 kali setiap selesai salat fardlu. Setelah selesai puasa, setiap harinya selesai shalat, aji mantera di atas dibaca 3 kali. Setelah itu secara gaib energi tubuh pelaku sudah terisi ajian dan kekuatannya sewaktu-waktu bisa digunakan secara langsung. Terutama untuk tujuan kebaikan dan ketika menghadapi musuh-musuh yang berhati jahat dan keji.






Maung Sadewo Meluluhkan Musuh
Pada zaman kerajaan Padjajaran ada satu ilmu kesekten cukup digandrungi kalangan pendekar kala itu. Sifat ilmu tidak menyakiti musuh, namun cukup membuat jera dan segan terhadap orang yang menguasai ilmu. Namanya Aji Maung Sadewo. Lakunya tidak neko-neko, cukup dengan puasa ngelowong dan membaca mantera. Ingin membuktikan?
Orang punya niat jahat akan luluh dihadapan pemilik kadigdayaan Maung Sadewo. Para ahli supranutural menggolongkan ilmu ini bagian dari ilmu putih. Tidak boleh digunakan sembarangan. Hanya waktu terdesak dan tengah berhadapan dengan musuh yang hendak menyakitinya. Maung Sadewo dulu sering digunakan para pengembara dan pendekar jalanan.
Tidak salah jika ajian ini sekarang masih banyak dikuasai kalangan tertentu. Misalkan, pedepokan, tempat pelatihan ilmu beladiri, dan pondok pesantren sebagian mengajarkan ajian ini untuk bekal kekebalan dan keselamatan para murid dan santri.
Sifat ilmu bisa meluluhkan sifat orang jahat, menjadi efektif jika dipergunakan di saat tengah terjepit. Tidak mau menyerang meski musuh yang memulai perkara sudah bersiap menyerang. Maka, upaya yang harus dilakukan cukup sekedar menangkis dan menghindari serangan.
“Pas kiranya jika dalam posisi terjepit seperti itu, ajian Maung Sadewo dipergunakan. Tidak perlu harus balik menyerang,” ujar Ki Broto ahli supranatural kepada misterionlie. Sama seperti ilmu kekebalan lainnya, jika emosi musuh terpancing untuk menyerang tidak sesentipun dapat menjamah kulitnya.
Dengan fenomena serba global sekarang manfaat ilmu Maung Sadewo nyatanya tidak sekedar diandalkan sebagai ilmu kekebalan. Ada sebagian kalangan yang mengamalkan untuk membungkam mulut orang yang suka berkata tidak jujur, suka berbohong, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya.
Tanpa disadari oleh orang itu, tiba-tiba mulutnya yang lancing seperti keluh dan tidak bisa dibuat mengucapkan kata-kata lebih banyak. Seperti terpaku dan sulit untuk mengucapkan kata yang tidak enak didengar telinga. Terlebih lagi jika emosi orang yang tersebut tengah tinggi, ilmu ini lebih ampuh untuk memaku mulutnya.
Labih tepat lagi menurut Ki Broto para pejabat atau pegawai karier banyak yang mengamalkan ilmu ini untuk mempengaruhi lawan saingannya. Mulut ‘musuh’ itu dibungkam dan seakan-akan tidak mampu lagi mengingat apa yang harus diucapkan. Kosentrasinya pecah hingga sering mengucapkan kata-kata yang salah. “Cuma untuk demikian tidak baik. Memang aji ini ampuh untuk menjaga kewibawaan,” tambahnya.
Adapun ajian yang harus diucapkan tiap hendak membutuhkan kekuatan luar tubuh ini, antara lain: “Assalamu alaikum alaa syaidina khidir alaihissalam. Assalamu alaikum alaa syaidina ali rodiyallahu anhu. Kem-kem pambungkem kang sarwo galak cangkeme pinatek ing paku kencono. Kang kesorot mripatku soyo runduk songko kersaning Allah. Yaa.. Nur… (ya Nur dibaca 13 kali tanpa nafas).
Sedang laku ritual dijalani dengan puasa mutih selama 7 hari 7 malam. Ditambah puasa ngrlowong selama sehari semalam. Namun, perlu diingat jika laku ini harus dimulai pada hari Rabu Pon. Selama puasa si laku membaca mantera tersebut di atas sebanyak 11 kali setiap selesai menjalankan shalat wajib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar