Jumat, 02 Januari 2009

Menuju Realitas Spiritual

Oleh: Ruhullah Syams "Seluruh ibadah yang menjadi tujuan penciptaan mempunyai rahasia dan batin masing-masing.
Dan seluruh maujud-maujud di alam semesta raya ini, apakah ia di alam non materi ataukah di alam materi, pada
hakikatnya dalam keadaan beribadah secara takwiniah. Tetapi manusia mempunyai ibadah spesifik, ibadah yang
disebut dengan ibadah tasyri'iah. Ibadah ini diberikan kepada manusia sebagai makhluk berakal dan berikhtiar sebagai
sarana penopang untuk menaikkan derajat eksistensial dan esensial mereka. Mengapa kita katakan ibadah tasyri'i ini
spesifik bagi manusia? Ini dikarenakan penyaksian kita yang tidak sampai pada alam batin maujud-maujud. Sebab jika
kita kaji dan renungkan firman Tuhan yang menyatakan: "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya
bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti
tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun", maka kita akan memahami bahwa betapa seluruh
maujud-maujud ini mempunyai tasbih dan tahmid pada Tuhan yang tidak diketahui oleh kita manusia, dan tasbih ini
tentunya bukan tasbih takwini, sebab tasbih ini (tasbih takwini) secara global dapat dipersepsi, disingkap, dan dipahami
oleh akal. Mulla Shadra, untuk membuktikan "gerak substansial, berbagai sisi dan dimensi ia telusuri dengan argumen
akal, namun, seorang arif lewat kasyf dan syuhud-nya, ia menyaksikan semuanya itu. Oleh karena itu, hanya mereka
yang menembus jantung dan pusaran spiritual yang mempunyai penyaksian dan syuhud atas tasbih-tasbih seluruh
maujud-maujud alam."
Seluruh ibadah yang menjadi tujuan penciptaan mempunyai rahasia dan batin masing-masing. Dan seluruh maujudmaujud
di alam semesta raya ini, apakah ia di alam non materi ataukah di alam materi, pada hakikatnya dalam keadaan
beribadah secara takwiniah. Tetapi manusia mempunyai ibadah spesifik, ibadah yang disebut dengan ibadah tasyri'iah.
Ibadah ini diberikan kepada manusia sebagai makhluk berakal dan berikhtiar sebagai sarana penopang untuk
menaikkan derajat eksistensial dan esensial mereka. Mengapa kita katakan ibadah tasyri'i ini spesifik bagi manusia? Ini
dikarenakan penyaksian kita yang tidak sampai pada alam batin maujud-maujud. Sebab jika kita kaji dan renungkan
firman Tuhan yang menyatakan: "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan
tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh,
Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun"[1], maka kita akan memahami bahwa betapa seluruh maujud-maujud ini
mempunyai tasbih dan tahmid pada Tuhan yang tidak diketahui oleh kita manusia, dan tasbih ini tentunya bukan tasbih
takwini, sebab tasbih ini (tasbih takwini) secara global dapat dipersepsi, disingkap, dan dipahami oleh akal. Mulla
Shadra, untuk membuktikan "gerak substansial, berbagai sisi dan dimensi ia telusuri dengan argumen akal, namun,
seorang arif lewat kasyf dan syuhud-nya, ia menyaksikan semuanya itu. Oleh karena itu, hanya mereka yang menembus
jantung dan pusaran spiritual yang mempunyai penyaksian dan syuhud atas tasbih-tasbih seluruh maujud-maujud alam.
Sebagai contoh, firman Tuhan tentang tasbih gunung dan burung bersama Nabi Dawud As (sebagai insan kamil): "Maka
Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman; dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami
tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya.[2]
Setiap ibadah spiritual mempunyai rahasia dan dimensi batin; mitsâli dan aqli. Dimensi batin mitsâli ini dapat dilihat oleh
manusia di alam barzakh, alam antara alam akal dan alam materi. Manusia yang tidak terbuka penglihatan batinnya
tidak dapat menyaksikan dimensi mitsâli ini di alam dunia, namun, ketika ruhnya berpisah dari jasadnya dan berpindah
pada alam ini (alam barzakh atau alam kubur), dia baru dapat menyaksikan dimensi mitsâli ibadah dan amal-amal
perbuatannya. Maka dari itu, pada hakiktnya kita ini berpotensi memiliki tiga tingkatan alam; alam dunia atau materi,
alam mitsâli atau barzakh, dan alam aqli. Imam Maksum As, ketika ditanya tentang kapan dimulainya alam barzakh,
imam menjawab: "Mulai di alam kubur".[3] Tatkala manusia memasuki alam kubur maka alam barzakh pun dimulai, yakni
pada saat itu manusia mulai merasakan kehidupan barzakhnya yang ia cipta di alam dunia ini; apakah ia tergolong
manusia beruntung dan bahagia ataukah termasuk orang yang merugi dan nestapa. Dinukil riwayat dalam kitab-kitab
hadis bahwa Imam Baqir As pernah bersabda: "Jika seorang mukmin meninggal dunia dan memasuki alam kubur maka
bersamanya pula enam rupa yang menempati kedudukannya masing-masing. Di antaranya ada satu yang mempunyai
rupa paling bagus, paling beribawa, paling harum, dan paling bersih ketimbang dari yang lainnya. Selanjutnya beliau
mengatakan: Ada satu bentuk rupa yang berdiri di samping kanan hamba tersebut, satunya lagi di samping kirinya, di
antara kedua tangannya, di belakangnya, di antara kedua kakinya, dan yang paling bagus bentuk rupanya berada di
atas kepalanya. Bentuk yang paling bagus kemudian berkata: Siapakah kalian? Semoga Allah memberikan kebaikan
kepada kalian. Yang berada di kanan hamba itu berkata: Aku adalaha shalat. Yang di kirinya berkata: Aku adalah zakat.
Yang di antara kedua tangannya berkata: Aku adalah puasa. Yang di belakangnya berkata: Aku adalah haji dan umrah.
Yang bereda di antara kedua kakinya berkata: Aku adalah kebaikan dari silaturrahimmu kepada saudara-saudaramu.
Kemudian bentuk-bentuk tersebut balik bertanya: Kamu sendiri siapa? Kamu paling bagus, paling harum, dan paling
beribawa di antara kami. Dia berkata: Aku adalah wilayah kepada keluarga suci Muhammad Saw".[4] Adapun dimensi
batin aqli yang terkandung dalam spiritual dapat disaksikan manusia setelah alam barzakh, dan ini sangat sedikit orang
yang memiliki saham darinya. Oleh karena itu, dengan keterangan hadits di atas, menjadi jelaslah bahwa ibadah dan
spiritual itu mempunyai wujud realitas batin. Mereka itu mempunyai dimensi batin berbentuk cahaya yang akan
menemani dan mendampingi hamba yang mukmin di dalam alam barzakhnya. Berbincang dan berbicara dengannya
serta memberikan syafaat kepadanya. Suatu ketika Rasul mulia Saw ditanya: "Apa bukti atas keesaan Allah Swt? Rasul
Saw bersabda: "Berhubungannya pengaturan dan sempurnanya penciptaan, sebagaimana firman-Nya: "Sekiranya ada
di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa".[5] Tentu saja ungkapan Rasul
Saw ini bukanlah sebagai suatu argumentasi, akan tetapi hanya sekedar untuk menghilangkan dahaga orang-orang
yang memiliki pengetahuan tidak begitu dalam tentang realitas keberadaan wujud absolut Tuhan dan kemestian ibadah
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:3 June, 2008, 02:19
kepada-Nya. Sebab dalam berbagai kesempatan lain Rasul Saw menjelaskan beragam masalah tauhid dan ibadah
kepada Tuhan dengan cara yang lebih mendalam kepada sahabatnya yang lain. Seperti sabada beliau Saw:
"Sesungguhnya shalat memiliki batin dan bentuk". Bentuk dan rupa yang mendatangi manusia di alam barzakh, tidak
lain adalah natijah amal, ibadah, dan spiritualnya. Bentuk cahaya yang ada di sisi kanan seorang hamba mukmin adalah
dimensi batin shalatnya. Shalat yang dikerjakan penuh dengan perhatian tentang nilai urgensinya berkomunikasi dengan
Tuhan, khudhu di hadapan-Nya, khusyu, dan menfokuskan konsentrasi bahwa hidup, nafas, gerak, diam, dan seluruh
apa yang dimilikinya hanya dipersembahkan pada haribaan Allah Swt. Di samping itu, amal zakat tentu juga mempunyai
dimensi batin yang akan menemani dan mendampingi seorang hamba di alam barzakh. Ibadah zakat ini tidak hanya
terbatas pada zakat harta, tetapi seluruh nikmat yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia mempunyai ragam zakatnya
masing-masing. Disebutkan dalam hadits bahwa: "Zakatnya ilmu adalah mengajarkannya, zakat harta adalah
menginfakkannya, zakat kecantikan adalah menjaga kesucian tubuhnya, dan zakat keberanian adalah berjihad di jalan
Allah Swt. Hamba yang dikarunia ilmu, mesti mengajarkannya kepada yang lain, sehingga mereka mendapatkan
pencerahan akal untuk membedakan yang benar dan salah, hak dan batil, halal dan haram, berkhidmat pada
kemanusiaan, dan akhlak serta perbuatan mulia lainnya. Jika dikarunia harta, berinfaklah di jalan Tuhan dan bantulah
orang-orang fakir dan miskin. Jika dikarunia kecantikan, mesti menjaga kesuciannya dan hati-hatilah jangan sampai lalai
dalam menjaganya sehingga menjatuhkan dirinya dan orang lain pada keburukan. Bagi yang diberikan nikmat
keberanian, mesti lebih banyak hadir dalam peperangan membela kemuliaan agama Tuhan. Dia harus lebih
bertanggung jawab untuk berkorban di jalan agama. Semua ini adalah zakat, yang jika ditunaikan dengan baik akan
berubah di alam barzakh menjadi cahaya yang dibangkitkan bersama mukmin yang menegakkannya. Mereka kemudian
akan berada di samping kiri hamba dan mengawalnya. Demikian juga ibadah puasa, haji dan umrah, serta kebaikan
kepada saudara kerabat dan saudara mukmin, semuanya mempunyai dimensi batin yang berupa cahaya yang akan
mengawal, menjaga, dan memberi syafaat pada hamba mukmin di alam barzakh nantinya. Ibadah puasa yang dilakukan
hamba mukmin dengan ketaatan dan penuh harap bahwa Tuhan akan memberikan ganjarannya lewat tangan pemurah-
Nya sendiri, bukanlah suatu amal perbuatan yang sia-sia yang hanya memberi efek lapar dan haus kepadanya, tapi
ibadah spiritual ini telah menjelma berupa cahaya batin yang bersinar terang menerangi qalbu dan akalnya di dunia ini
sehingga dia mempunyai empati sosial dan perasaan kasih terhadap masyarakat fakir dan miskin, anak-anak yatim,
orang-orang kelaparan dan tertindas, anak-anak terlantar dan putus sekolah, pemuda-pemuda pengangguran dan
bujang-bujang yang ingin memenuhi hajat menikahnya tapi tak mempunyai biaya untuk itu. Inilah dampak tarbiyah puasa
dalam membentuk pribadi mulia di alam kehidupan dunia ini, apatah lagi di alam barzakh kelak, dimensi batin ibadah
spiritual ini tentunya akan membahagiakan dan menggembirakan pemiliknya dengan sejuta pesona dan kenikmatan
berupa ketentraman, ketenangan, kecerahan, dan juga terutama keamanan dari azab siksa Ilahi. Dan cahaya yang
paling rupawan, elok, anggun, dan beribawa yang akan menemani hamba nantinya adalah wilayah kepada Ahlul Bait
Nabi Saw. Kecintaan kepada Ahlul Bait yang suci akan menjelma menjadi cahaya yang sangat indah dan mempesona,
yang akan meliputi hamba mukmin di alam barzakh. Inilah dimensi batin atas kecintaan dan wilayah terhadap Ahlul Bait
suci Nabi Saw. Suatu hari, seseorang meminta nasehat dari imam Ali As di siang hari yang terik dan sangat panas
seraya berkata: "Nasehatilah aku". Imam Ali As berkata padanya: "Engkau telah menghadiri majlis-majlis kami dan
mendengarkan ucapan-ucapan kami, maka apa faedahnya dari mendengarkan nasehat pada waktu yang panas seperti
ini?" Ia berkata: "Saya tidak akan meninggalkanmu sampai aku mendengarkan nasehat darimu". Imam Ali As berkata:
"Engkau bersama orang-orang yang engkau cintai".[6] Dari sabda imam tersebut, dapat ditarik suatu konklusi
bahwasanya manusia kelak akan dibangkitkan dengan orang yang dicintainya. Maka sekarang mari kita telusuri hati kita,
apa dan siapa yang telah mengisi penuh hati kita? Siapa dan apa yang dicintai hati kita? Jika ia telah mencintai para
Nabi As, para Imam Suci As, dan wali-wali Tuhan -tentunya kecintaan dan wilayah ini dibarengi dengan sikap
menjadikan mereka uswah dan suri teladan dalam seluruh aspek kehidupan, baik itu individu mapun sosial- maka
niscaya hati kita telah terliputi dan tersinari dimensi-dimensi maknawi dan akan dibangkitkan kelak bersama mereka.
Sekarang, jika semua spiritual dan ibadah ini mempunyai dimensi batin yang berbentuk dan berupa cahaya-cahaya,
maka bagaimana pula dimensi batin dari dosa dan kemaksiatan? Tentu saja batin dari pada dosa dan kemaksiatan
sangat menakutkan dan mengerikan bagi sipemiliknya. Betapa tidak, ia akan berupa api dan membakar serta
menghanguskannya. Orang yang makan harta anak yatim secara batil, makan harta riba, harta sogokan, harta hasil
curian dan korupsi, serta harta dan barang yang diperolehnya dari jalan dan cara haram lainnya, pada hakikatnya apa
yang dimakan itu tidak lain adalah api yang akan dia saksikan kelak di alam barzakh. Nabi Saw dan para Imam Suci As
niscaya telah menyaksikan seluruh aspek dan dimensi batin manusia-manusia yang terlumuri dan terkotori oleh dosa
dan maksiat, namun untuk suatu kemaslahatan beliau tidak mengungkapkannya. Sebagian ahli makrifat pun mempu
melihat batin manusia. Mereka mampu melihat siapa yang wajah batinnya hitam dan siapa yang putih. Mereka juga
mampu melihat keluarnya api dari mulut orang-orang tertentu yang sedang berbicara. Para ahli makrifat akan melihat
orang-orang yang selalu melakukan maksiat dan amal buruk, mulutnya senantiasa dipenuhi dengan kobaran api.
Abdurrazzak al-Kasyani, seorang ahli makrifat mengatakan bahwa sebagian orang tidak makan kecuali pohon yang
berduri. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt: "Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri"[7];
dan di ayat lain Tuhan berfirman: "Dan tiada (pula) makanan sedikit pun baginya kecuali darah dan nanah, tidak ada
yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa."[8] Ulama dan ahli makrifat ini mengatakan dalam tafsirnya :
"Kami telah melihat siapa yang memakannya. Artinya ahli makrifat dapat melihat dimensi batin dari perbuatan manusia
yang berbentuk nanah. Sebagian sahabat Nabi Saw memiliki penglihatan batin demikian ini. Diriwayatkan bahwa Haris
bin Malik berkata kepada Nabi Saw: "Ya Rasulullah, aku melihat neraka jahanam dan penghuninya dan aku melihat
surga beserta penghuninya dan aku mendengar suara-suara mereka"[9]. Oleh karena itu, pada hakikatnya dimensi
batin ibadah, spiritual, akhlak baik, akhlak buruk, amal baik, dan amal buruk manusia sekarang ini sudah tercipta dan
bersama manusia, namun karena alam ini adalah alam materi, dimana penginderaan manusia semuanya berbentuk
http://telagahikmah.org/id - Bentara Budaya Hujjatiyah Powered by Mambo Generated:3 June, 2008, 02:19
materi maka penyaksiannya pun seluruhnya berwajah materi dan berupa materi. Namun, manusia mesti ingat bahwa
kehidupannya tidak hanya terbatas pada alam materi ini, terdapat alam batin, dimana dalam alam batin ini kehidupan
manusia akan berlanjut terus dan akan ditemani dan disertai dengan dimensi batin ibadah, spiritual, dan amal perbuatan
mereka dan manusia di alam barzakh dan akhirat akan menyaksikan mereka semua itu.[]
[1] . Q.S. al-Isra [17] : 44. [2] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 79. [3] . Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 2, Hal. 553. [4] . Al-Barqi,
al-Mahasih, hadits 432, hal. 232. [5] . Syaikh al-Shaduq, at-Tauhid, Bab. 27, Hadits ke 2. [6] . Syaikh al-Mufid, al-Amali,
Hal. 6. [7] . Q.S. al-Gâsyiyah [88] : 6. [8] . Q.S. al-Hâqqah [69] : 36-37. [9] . Ushul al-Kâfi, Jld. 2, Bab. Hakikat al-Iman wa
al-Yaqin. Penulis adalah mahasiswa program S2, jurusan Filsafat & Irfan, Imam Khomeini University, Qum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar