Senin, 16 Maret 2009

Jati Diri

Bismilahirrahmaanirrahiim
Setiap manusia yang mampu menyingkapkan dirinya dengan benar berdasarkan al-Qur'an akan selalu menghasilkan kodefikasi numerik 114 sebagai an-Naas dan sebagai Bani Adam yang menjadi Khalifah (Penguasa Pengetahuan Tauhid).
Petunjuk penyingkapan jati diri;
1) Tauhidkanlah dengan benar dan murni “Laa ilaaha illaa Allaah, Muhammadurrasulullah”, Tuhanmu Yang Maha Esa dan tempat bergantung (QS 112:1-4) dan Yang Maha Menciptakan (QS 96:1-5) dan Muhammad Utusan Allah, washilah dan pembimbingmu sebagai orang yang diberi nikmat yang banyak oleh Allah, yang akan mengiringimu memasuki Shirathaal Mustaqiim. Jangan syirik, baik yang halus maupun yang vulgar. Jauhi dunia perklenikan dan perdukunan karena merupakan salah satu instrumen Iblis yang nyata benar menjadi sarana pembodohan manusia yang berakal pikiran. Selain itu, dunia perdukunan dan perklenikan akan dapat menyebabkan manusia menjadi satanik. Juga , hati-hatilah, jangan pernah beranggapan bahwa doa dan memajang kaligrafi di rumahmu akan dapat mengusir setan. Hal ini termasuk syirik juga karena hanya Allah lah bukan karena kaligrafi atau rentetan doa yang mengusir setan. Khususnya setan dari dalam dirimu yaitu was-was dihati (QS 114:1-4) yang berkembang menjadi buruk sangka kepada sesama makhluk atau bahkan buruk sangka kepada Tuhan. Doa hanya sekedar bahasa yang kita gunakan untuk memohon bantuan Allah SWT, jadi bukan karena doamu tetapi karena kehendak, kekuasaan, ampunan, rahmat dan kasih sayang Allah lah semua keinginanmu maujud. Selalu bersandarlah kepada-Nya.
2) Mulailah dari diri Anda sendiri, apakah berdasarkan profesi maupun berdasarkan apa yang Anda sukai. Apakah berdasarkan tanggal lahir, ataupun nama Anda sendiri, ataupun hal-hal lainnya yang mungkin.


Ketahuilah, al-Qur'an adalah suatu kesempurnaan pedoman yang rigid, namun fleksibel karena mempunyai arah pandangan dan pintu masuk berupa lingkaran kesempurnaan 360 derajat sebagai wujudnya kesempurnaan dan detak jantung kehidupan semua makhluk yaitu YaaSiin.
3) Singkapkanlah dengan panduan Iqra dan jiwa yang termurnikan dengan pedoman kepada akhlak Rasulullah Muhammad SAW. Berfikirlah dengan filosofis, logis, dan kreatif sebagai pemahaman tri-lateral untuk menyelami al-Qur’an yang pemahamannya bertingkat-tingkat mulai dari makna lahiriah yang terbaca, makna ilmiah yang tersingkap secara logis melalui nomor surat maupun ayatnya, maupun hakikat terdalam sebagai makna batiniah yang tersirat didalamnya, dan akhirnya menjadi dasar-dasar bagaimana Anda bertindak yaitu akhlak Rasulullah (simak QS 9:128-129, QS 10:9-10).
4) Ketika Tuhan memberikan petunjuk, berdoalah agar pengetahuan-Nya dilimpahkan kepadamu. Berendah dirilah dihadapan-Nya, sucikan dirimu ketika engkau ingin membaca Al Qur'an dan jauhilah hawa nafsu ketika membaca al-Qur’an. Penelusuran dengan meneliti nomor surat dan ayat, huruf-huruf, makna terdalam, dan simbol-simbol serta ungkapan yang dinyatakan dengan kisah Nabi dan orang beriman maupun kaum yang menentang Tuhan akan membantu melacak jejak-jejak historis Anda dalam al-Qur'an sebagai Bani Adam, anak-anak Adam yang menguasai Pengetahuan Tauhid. Engkau adalah “Khalifata” bagi dirimu sendiri dan orang-orang disekitarmu. Jangan takuti bahasa Arab di Al Qur’an, pelajarilah sedikit demi sedikit semampumu.
5) Jalankan perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Shalatlah dengan ikhlas dan ridha tanpa beban dan keinginan untuk ini atau itu. Shalatlah sebagai pemenuhan hak-hak Allah untuk menerima maghfirah (ampunan) yang dianugerahkan Allah kepadamu sebagai ‘Abd Allah yang berserah diri (Umat Islam) dengan ampunan dan taubat (Istighfar) yang menauhidkan dan menjadi bagian dari kontinuitas keseimbangan jagat raya. Sebagai muslim, engkau adalah tetapan awal mula yang menjadikan bagian dari eksistensi al-Aalamin (alam semesta global). Engkau adalah an-Naas (Qs 114), al-


Insaan(Qs 76), al-Mukminin(Qs 23), al-Mukmin(Qs 40) yang berasal dari "fii ahsaani taqwiim" (sebaik-baiknya bentuk) (Qs 95:4) yang bisa menjadi al-Insaan al-Kamil (QS 2:128-129) dibawah naungan Rahmaatan Lil Aalamin (Nabi Muhammad SAW), dengan pedoman Dzikrul Lil Aalamin (Al Qur’an), dan pengajaran Rabbul Aalamin. Sadarilah itu sebagai konsep fundamental!
6) Selama perjalanan Anda menelusuri Al Qur’an, Anda akan menemui berbagai hal yang dapat Anda terapkan maupun peringatan yang membantu Anda untuk memperbaiki apa yang perlu Anda perbaiki.
7) Hati-hati Iblis dan setan dari dirimu, was-was yang engkau tumbuhkan di dadamu, dan lingkungan sekelilingmu dapat menjadi Iblis dan setan yang menyesatkan. Iblis dan setan dapat berupa apa saja dan datang dari depan, belakang, kiri dan kanan (QS 7:17), maka WASPADALAH!
8) Sadarilah dalam dirimu bersemayam senyawa Iblis (kalor panas tubuh) yang dapat menjadikan dirimu satanik, dajjalik (buta mata hati, summum, bukmum umyun), dan menjadi bagian dari “kaum Yakjuj dan Makjuj” yaitu “kaum panjang angan-angan dan khayal” yang condong kepada ilusi mental yang menuruti hawa nafsu.
9) Perhatikanlah makanan dan minumanmu dari mana asal muasalnya, dan bagaimana komposisinya apakah mengandung senyawa yang membuat kalor tubuhmu menjadi tak tekendali atau tidak. Jangan sekalipun memakan “makanan dan minuman” yang “memabukkan” atau minuman tonik yang mempunyai kecondongan kepada meningkatnya kalor tubuh dan syahwat. Tetapi jangan bodoh untuk mengatakan alkohol murni itu haram, karena alkohol dapat dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih berguna. Jika kita tidak memahami maksud halal dan haram dalam makanan dan minuman sebagai hasil olahan yang menyebabkan pengaruh buruk pada akal pikiran kita (kesehatan mental kita), maka kita semua akan di adzab Allah karena mengharamkan penampilan Asma dan Sifat-Nya, dan tentunya karena kita setiap hari menggunakan bahan bakar yang merupakan keluarga alkohol atau bahan-bahan lainnya yang bersinggungan secara alamiah. Jadi pikirkanlah jangan mengikuti kedunguan Iblis.


10) Jangan sandarkan dirimu pada amaliah lahirmu, apalagi dari pakaianmu, karena ke surga dan ke neraka bukanlah karena amaliah kita tetapi semata-mata karena anugerah Allah. Seandainya Allah hanya mengatakan bahwa tiket masuk surga karena amal lahiriah semata, maka ketahuilah seumur hidup ibadahmu yang terbaik sekalipun tak akan sanggup untuk membalas limpahan keikhlasan Allah untuk menciptakan selembar bulu rambut yang ada di lubang hidungmu. Perbanyaklah amaliah lahir dengan landasan batin yang benar, dengan ikhlas dan ridha tanpa kecenderungan untuk mendapatkan surga atau neraka, apalagi ingin menjadi kaya di dunia. Keikhlasanmu adalah keikhlasan Allah yang telah menciptakanmu. Tanpa ikhlas-Nya maka makhluk tak akan pernah ada.
11) Ketahuilah, ibadahmu tak ada hubungannya dengan kekayaanmu di dunia. Karena itu ibadahmu hanya patut untuk Allah SWT karena engkau diciptakan sebagai cermin untuk menampilkan Pengetahuan-Nya dengan landasan penauhidan dan engkau sekedar menjadi abdi (‘Abd) yang menyembah-Nya.
12) Tahajudlah dan perbanyaklah istighfar dan memohon ampunan Allah, bagaimana pun kondisimu, baik keadaan susah maupun senang. Tahajudlah untuk memohon ampunan dan memohon ridha dan tambahan pengetahuan-Nya. Tahajud adalah shalat wajib yang akhirnya diringankan karena keterbatasan fisikal manusia. Jadi, sejatinya tahajud shalat wajib namun karena kalau malam manusia umumnya beristirahat maka shalat tahajud diringankan Allah hanya bagi yang mau dan mampu (QS 73:20).
13) Istiqamah-lah, jalankan semua ubudiyyahmu dengan ketekunan, bukan dengan nafsu dan ingin cepat-cepat menjadi ahli ibadah. Bukankah di al-Qur'an disebutkan untuk beribadah semampunya?Jangan menyesali apa yang tak bisa kau raih, lakukanlah semua ibadahmu semampumu, apapun kondisimu saat itu.
14) Setiap kali selesai shalat, perbanyaklah istigfar-mu, dzikirmu dengan kodefikasi 4x33 kali yaitu tahlil, tasbih, tahmid, dan takbir (urutannya bebas), dan perbanyaklah shalawat kepada Nabi Muhammad SAW karena dialah yang menjadi washilah-mu sejak awal dan akhir penciptaan makhluk.


Perbanyaklah membaca surat al-Fatihah, an-Nashr, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas dalam keadaan apapun.
15) Jangan pernah merasa diri paling beriman, paling suci, paling baik, ataupun sikap menyombongkan diri. Ketahuilah, sikap itu muncul dari kebodohan Iblis yang tidak tahu bagaimana dirinya diciptakan. Kebodohan adalah musuh Umat Islam yang memunculkan sikap banggga diri yang membahayakan. Ketahuilah semua makhluk diciptakan dengan limpahan kalimat Basmalah maka semua makhluk sejatinya menerima rahmat Allah SWT. Jadi, jangan menyombongkan diri karena kesombongan muncul dari penyakit Ghurur (bangga diri) yang akan menimbulkan sombong, takabur, riya, kedengkian dan sederetan penyakit Iblis yang akan sambung menyambung menggelapkan hati. Kalau ini terjadi, maka sebaik apapun lahiriahnya engkau menampilkan diri tak lebih dari keinginan untuk dipuja puji orang lain. Iblis adalah musuhmu, esensinya ada dalam diri setiap manusia maka ia akan selalu berupaya terus menerus menggodamu dengan berbagai cara, bahkan dengan jubah-jubah kesucian dan peribadahan sekalipun.
16) Mulailah berpikir dengan mendalam atas semua aktivitasmu. Jangan menjadi TAKLID buta, apalagi membebek dan nyambat apa kata orang, sikap ini muncul dari kebodohan Iblis. Juga, jangan mudah dipanas-panasi atau dibodohi dengan isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Boleh jadi berita itu adalah berita dari kaum al-Kafiruun atau al-Munafiquun.
17) Jangan lupakan bahwa semua itu tak lebih dari anugerah Allah karena realitas tegaknya semua makhluk adalah "Laa Hawla Walla Quwwaata Illa Billah"(Tiada daya dan upaya kecuali daya dan upaya Allah semata).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar