Minggu, 01 Februari 2009

Adab Menuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada
Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama
adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan
pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah
semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini.
Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab
yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah,
menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru
menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.

ADAB PERTAMA
Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla
Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk
mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan
memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah,
sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah
atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam
al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan
sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.
Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya
untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka
mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu
seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari
kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan
untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih
bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari
kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat
keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat
memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan
manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan
sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat
yang benar.

ADAB KEDUA
Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain
Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya
sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya
adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan
kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan
hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk
mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran
melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari
ilmu yang kau miliki.

ADAB KETIGA
Bermaksud Membela Syariat
Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab
kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya).
Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya
ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab
syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan
kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah
kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan
kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut
ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-
Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus
senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk
membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama,
supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh
Allah
‘azza wa jalla.

ADAB KEEMPAT
Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf
Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang
bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama
itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau
seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang
menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam
permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang
yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa
menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan
anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun
akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan
anda.
Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara
yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh
berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam
permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang
diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan
lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam
ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai
penyebab permusuhan dan kebencian.
Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara
persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan
furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk
berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan
demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan
sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan
terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan
seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan
perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang
sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-
Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat
kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orangorang
yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

ADAB KELIMA
Beramal Dengan Ilmu
Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu
akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu
dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat
orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk
membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat
sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

ADAB KEENAM
Berdakwah di Jalan Allah
Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla,
dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di
pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya
duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan
bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut
ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang
saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus
mengamalkannya.

ADAB KETUJUH
Bersikap Bijaksana (Hikmah)
Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman
yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan
barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat
banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut
ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya
mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia
berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh
cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang
difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang
diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang
yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai
kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi
kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.
Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang
artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan
debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah
ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli
kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali
dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara
mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara
dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

ADAB KEDELAPAN
Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu
Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan
merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai
kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena
apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan
meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap
belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu
sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

ADAB KESEMBILAN
Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya
Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para
ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dadadada
mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan
selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di
dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan
(kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian
orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan
tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati
orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan
yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka
menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan
menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya
mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu
syar’i yang
dibawanya.
Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri
mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia
menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan
orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk
bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat
besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami
perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan
mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi
bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah
menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka
yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah
kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap
mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa
perkataan orang alim itu
telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia
benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah
dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun
merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebarnyebarkannya
di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah
belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.

ADAB KESEPULUH
Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah
Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan
mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan
tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :
1. Al-Qur’an Al-Karim
Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya,
menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah
tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu
sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi
berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu
besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang
patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau
menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca
al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode
menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa
seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an,
mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya
dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.
2. As Sunnah yang shahihah
Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an
al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara
keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah
semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash
hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya,
membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan
membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah
guna menentang as-Sunnah.

ADAB KESEBELAS
Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar
Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah
tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita
yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena
berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya
adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi
maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan
dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan
dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya
begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut
ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak
akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang
diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan
landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan
permasalahan itu seperti perilaku orang
yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran
yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan
adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta
kesabaran untuk mempelajarinya.
Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi
ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba siasiakan.
Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya
telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri
pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan
pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah
disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin
bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah,
limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu
yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan,
terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa
Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar