Minggu, 01 Februari 2009

Bagaimana Mewariskan Ilmu Kepada Anak Cucu

Ilmu menjaga manusia
Manusia menjaga harta
Bertambah ilmu dalam amalan
Berkurang harta dibelanjakan
Ilmu ringan memikulnya
Harta berat memikulnya
Ilmu menyinari hati
Harta mengeraskan hati


Sesungguhnya sudah tidak lagi merupakan kejutan apabila kita membicarakan harta dan ilmu. Dua macam "kekayaan" ini sangat diperlukan oleh setiap manusia untuk melangsungkan kehidupannya di bumi. Kejutan baru akan muncul jika kita lebih mementingkan ilmu ketimbang harta, terutama berkaitan dengan pewarisan.
Selama ini, sepengetahuan saya, yang lazim diwariskan adalah harta. Saya jarang mendengar ada seorang ayah atau ibu, yang secara khusus, mewariskan ilmunya kepada anak-anaknya. Memang, kita sering menyaksikan ada seorang anak yang menjadi dokter atau penyanyi sukses karena ayah atau ibunya berprofesi sebagai seorang dokter atau penyanyi.

Namun, apakah proses pewarisan profesi dokter atau penyanyi itu berlangsung sebagaimana pewarisan harta? Saya kira tidak. Biasanya, ilmu yang dimiliki seorang ayah atau ibu "menitis" lewat hukum atau aturan genetis. Artinya, secara alamiah, sejak si anak lahir ke bumi, dia sudah memiliki "darah" yang, bisa jadi, mengandung profesionalitas sang ayah atau ibunya.

Meskipun begitu, ada sebagian orang yang tidak percaya proses pewarisan ilmu tersebut berjalan secara alamiah. Bagi penganut teori nurture (lawannya teori nature/ yang alamiah) atau pengasuhan, meskipun si anak teraliri profesionalitas ayah atau ibunya, jika lingkungan tidak mendukung, belum tentu anak dapat mewarisi ilmu yang dimiliki sang ayah atau ibunya.

Baik, saya tidak akan berdebat soal mana yang benar, teori nature atau nurture. Saya hanya ingin mengajak Anda sekalian untuk membayangkan mungkinnya para orangtua di zaman sekarang mewariskan semacam "ilmu" kepada anak-anaknya secara rasional. Artinya, sebagaimana sepasang orangtua mewariskan harta berupa rumah, mobil, tanah, dan semacamnya kepada anak-anaknya, maka ilmu pun dapat diwariskan kepada generasi yang lebih muda.

Bagaimana ini dapat terjadi? Dan bagaimana cara mewariskan ilmu? Apakah ilmu dapat dipersentasekan sebagaimana harta? Apakah jika sepasang suami-istri memiliki banyak anak, kemudian anak pertama dapat ilmu ini, dan anak yang ke sekian dapat ilmu itu? Atau, adakah anak yang dapat menerima sekian persen ilmu sang ibu dan sekian persen ilmu sang ayah?

Tentu, proses pewarisan ilmu tidak harus sama persis dengan aturan pewarisan harta. Ilmu sangat berbeda dengan harta. Kata grup musik Bimbo, dalam lagu "Harta dan Ilmu", Ilmu menjaga manusia/Manusia menjaga harta dan Ilmu menyinari hati/Harta mengeraskan hati. Langkah pertama yang harus kita ambil agar kita dapat mewariskan ilmu kepada anak-cucu kita adalah memahami perbedaan mendasar antara ilmu dan harta.

Langkah kedua adalah dengan memanfaatkan kegiatan menulis. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib r.a. berkata, "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya." Wujud sebuah ilmu itu baru tampak sangat jelas apabila ilmu tersebut dirumuskan (atau distrukturkan) lewat tulisan. Ada kemungkinan apabila ilmu tak dituliskan, ia hanya berbentuk informasi.

Banyak pengalaman hidup kita yang berlangsung puluhan tahun menjadi sekadar cerita yang tak bermakna apabila tidak dicoba dirumuskan dalam bentuk tertulis. "Cerita tak bermakna" bukanlah ilmu. Ia adalah informasi yang bisa jadi, ketika disampaikan, hanya masuk telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Kadang-kadang juga, tidak ada sesuatu yang berarti berkaitan dengan informasi.

Sangat berbeda jika pengalaman hidup kita dituliskan. Lewat menuliskan pengalaman hidup, seseorang akan menyeleksi mana pengalaman yang mengesankan dan mana yang tidak. Lewat menuliskan pengalaman hidup, seseorang didorong untuk terus mencari hal-hal penting yang dapat diulangi oleh generasi yang lebih muda atau hal-hal mubazir yang tak perlu diulang-ulang oleh generasi sesudahnya.

Bagi si pewaris atau penerima ilmu, tulisan juga akan membantunya untuk lebih kritis. Tulisan kadang memberikan kesempatan kepada si pembaca tulisan untuk mengolah tulisan menjadi sesuatu yang berarti. Dengan membaca sederet tulisan yang ada di sebuah buku, seseorang akan mampu mengaitkan keberadaan dirinya dengan materi yang sedang dibacanya. Dan proses saling tukar atau saling kait ini terjadi secara sangat intens.

Menurut Ustad Muhammad Quraish Shihab, perintah iqra' (dalam Surah Al-'Alaq ayat pertama hingga kelima) bukan sekadar membaca. Iqra' yang diturunkan dari akar kata qara'a adalah berarti mendalami, meneliti, dan menghimpun. Apa yang dihimpun? Yang dihimpun adalah makna. Jadi, ketika seseorang membaca tulisan, sesungguhnya dia sedang mencari dan menemukan makna hidup.

Langkah ketiga berkaitan dengan cara mewariskan ilmu. Saya akan memberikan contoh bagaimana mewariskan ilmu secara umum. Buku saya berjudul 7 Warisan Berharga adalah semacam bentuk konkret bagaimana saya ingin mewariskan ilmu kepada anak-anak saya dan, juga, kelak, cucu-cucu saya. Ilmu yang ingin saya wariskan adalah ilmu yang bersifat sangat umum. Hal ini dikarenakan, sekali lagi, saya ingin memberikan contoh saja tentang salah satu "cara mewariskan" bagi sebagian orang yang ingin mengubah paradigma (pandangan) dari hanya mewariskan harta ke mewariskan ilmu.

Ada tujuh jenis ilmu yang ingin saya wariskan kepada anak-anak saya. Ketujuh jenis ilmu itu berpusat pada pengetahuan tentang diri (berat sekali ya memahami kata-kata ini?). Saya mengistilahkan ilmu yang ingin saya wariskan dengan "Pintu-Pintu Mengenali Diri". Jumlah "pintu"-nya ada tujuh.


Pintu 1: Memaknai Namamu

Pintu 2: Memaknai Tanggal Kelahiranmu

Pintu 3: Memaknai Masa Kecilmu

Pintu 4: Memaknai Rumahmu

Pintu 5: Memaknai Belajar (Sekolah)-mu

Pintu 6: Memaknai Negerimu

Pintu 7: Memaknai Diri (Dunia Luas)-mu


Saya menggunakan kata-kata "mu" karena saya berhadapan dengan anak-anak saya. Meskipun buku ini sifatnya sangat personal (artinya hal-hal yang ada di buku ini maknanya baru benar-benar akan tersibak jika seseorang tahu kehidupan keluarga saya), sekali lagi, yang ingin saya sasar bukanlah "materi" buku ini melainkan "cara" yang saya tempuh (how to) dalam mewariskan ilmu kepada anak-anak saya.

Mengapa kok hanya tujuh? Apakah ilmu yang layak diwariskan hanya sejumlah tujuh? Memang, sangat banyak ilmu yang dapat kita wariskan kepada anak-anak kita. Namun, setiap orang tentu memiliki keterbatasan dan keunggulan sendiri-sendiri. Saya memilih tujuh karena saya memfokuskan pada pengetahuan tentang diri.

Saya merasakan bahwa hidup anak saya akan menjadi bermakna jika saja anak-anak saya dapat mengenal keenam hal yang melekat pada diri mereka sejak dini. Tentu saja agar proses pengenalan itu berjalan efektif dan mudah, orangtua sangat berperan penting dalam membantu anak-anak mengenali keenam hal tersebut. Jika mereka dapat sedikit demi sedikit, dan sejak kecil, mengenali keenam hal itu, insya Allah mereka pun akan diantarkan untuk mengenali dirinya secara "luar-dalam".

Apakah mengenal diri sendiri itu sangat penting? Bukankah mengenal diri itu sangat sulit? Apakah dengan mengenal diri, anak-anak kita jadi hidup bahagia? Saya tak akan menjawab soal ini. Saya akan menutup tulisan sederhana saya ini dengan ucapan dari Nabi Muhammad Saw., "Barang siapa mengetahui dirinya, niscaya dia akan mengetahui Tuhannya." []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar